Senin, 18 Maret 2024

KHIDMAT UNTUK AGAMA, TANPA MENINGGALKAN KEWAJIBAN ATAU SESUATU YANG LEBIH UTAMA

 

 

Dalam banyak kegiatan terkait acara keagamaan, terkadang banyak masyarakat yang begitu senang, semangat, dan rajin, ada yang jadi ini, jadi itu, menyiapkan ini dan itu, ataupun sekedar hadir ikut memeriahkan dan bukan penyelenggara, dan hal itu memang berdasarkan kecintaan kepada acara tersebut, ataupun figur yang ada dibalik acara itu terselenggara, ataupun bisa juga, kesenangan itu terbangun karena disitu banyak sesuatu yang menyenangkan oleh nafsu, seperti banyak makanan gratis, minuman grastis, dapat ini dan itu, melihat ini dan itu,  jalan kesini dan kesitu, akan tetapi, ketika azan berkomandang, malah ada yang  melambatkan sembahyang, ada yang tidak berjamaah dan bahkan terkadang ada yang tidak sembahyang, padahal kedudukan acara-acara seperti itu, bukanlah suatu kewajiban, sedangkan shalat fardhu adalah kewajiban, berjamaah adalah fardhu kifayah.

 

Menurut Imam Ibnu Ataillah

مِنْ عَلَامَاتِ اتِّبَاعِ الْهَوَى الْمُسَارَعَةُ إِلَى نَوَافِلِ الْخَيْرَاتِ وَ التَّكَاسُلِ عَنِ الْقِيَامِ بِالْوَاجِبَاتِ.

Sebagian tanda seseorang yang suka menuruti hawa-nafsunya adalah bersegera melaksanakan ‘ibādah sunnah.

Kenapa shalat ada yang meninggalkan, padahal dalam suatu moment acara yang baik, karena shalat adalah sesuatu yang tidak disenangi nafsu, sedangkan, makan minum, santai, ngobrol, merokok tidak sembahyang adalah sesuatu yang disenangi nafsu.

Berkhidmat atau membantu acara keagamaan sangatlah baik dan dianjurkan, karena disitu kita bisa mengambil keberkahan dan banyak kebaikan yang akan didapat, tapi kalau acara tersebut hal-hal wajib jadi ditinggalkan atau terlalaikan, atau bebas dalam berkumpul, berjalan, berpandangan dan ngobrol antar aznabi, maka hal itu sangatlah kurang patut, dan bisa mengurangi keberkahan acara tersebut, tapi kalau antara Khidmat dan kewajiban berjalan beriringan, tentulah hal itu sangat baik dan elok dan tentunya banyak keberkahan yang akan didapat.

Mohon maaf kalau ada salah kata

KHUTBAH RAMADHAN, MENGENDALIKAN HAWA NAFSU

                         KHUTBAH RAMADHAN, MENGENDALIKAN HAWA NAFSU

اَلْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِى وَفَّقَنَا بِقِيَامِ وَصِيَامِ رَمَضَانَ اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَه لَاشَرِيْكَ لَه اَلَّذِي فَرَضَ صِيَامَ رَمَضَانَ فِي شَهْرِ شَعْبَانَ, وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُه وَرَسُوْلُه الّذِى بَشَّرَ الصَّائِمَ بِالرَّحْمَةِ وَالْغُفْرَانِ, اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّد وَعَلى الِه وَاَصْحَابِه وَاَتْبَاعِه, اَدْخَلَهُمُ اللهُ وَاِيَّانَا بَابَ الرَّيَانِ, اَمَّا بعْدُ فَيَا اَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوى الْلهِ وَطَاعَتِه فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ بِالْجِنَانِ.

مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ

Marilah kita tingkatkan kembali keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah Swt, dengan jalan menjunjung tinggi segala Perintahnya dan menjauhi segala apa yang dilarangnya.

 

Berpuasa, tentunya akan terasa sangat berat, oleh nafsu kita, karena puasa mengatur, sesuatu yang selama ini, disenangi oleh nafsu kita, seperti makan, minum, tidur, bergaul, sepuasnya, padahal semua itulah, yang selama ini, menyebabkan batang tubuh kita, menjadi berat untuk melaksanakan ibadah

مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ

Tingkat keberhasilan, setiap orang yang berpuasa, didalam mengendalikan nafsu, jelaslah tidak sama

1.      Pertama, ada orang yang mampu berpuasa, sekaligus mampu mengendalikan hawa nafsunya dengan baik, dengan mengurangi makan, minum dan tidur, supaya tidak berlimpatan, baik saat berbuka ataupun dimalam harinya, dan mampu menjaga anggota tubunya, dari berbuat maksiat, utamanya lidah dan matanya, sehingga dengan begitu mudahlah seseorang itu untuk berbuat ibadah

مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ

2.      Kedua, ada orang yang mampu berpuasa saja, akan tetapi nafsunya, tidak mampu ia kendalikan dengan baik, sehingga puasanya, hanya sebatas, tidak makan minum disiang hari, tapi ketika berbuka dan dimalam hari, kembali nafsunya tidak mampu ia kendalikan, dan anggota batang tubuhnya, tetap  bermaksiat, baik disiang ataupun malam hari Ramadhan, mereka inilah orang yang digambarkan Nabi saw dalam haditsNya,

كَمْ صَائِمٍ لَيْسَ لَه مِنْ صِيَامِه اِلاَّ الْجُوْعُ وَالْعَطْشُ

Artinya : Berapa banyak orang yang berpuasa, tiada ada yang ia dapat dari pahala kecuali lapar dan haus

 

Artinya pusanya percuma, sia-sia dan tidak ada pahalanya.

Tujuan Puasa, adalah menjadikan kita, orang yang bertaqwa, sebagaimana firman Allah,

يٰاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,"

مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ

Akhirnya mudah mudahan Allah ta’ala, selalu memberi kita hidayah dan taufiq, untuk mengisi Ramadhan, dengan kebaikan, dan menjadikan taqwa kita semakin meningkat,  amin amin ya rabbal alamin

اَلْحَمْدُ لِلهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلى رَسُوْلِ اللهِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِاللهِ وَعَلى الِه وَصَحْبِه وَمَنْ وَالَاه, أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوى اللهِ, وَاِذَا قُرِئَ الْقُرْانُ فَاسْتَمِعُوْا لَه وَاَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ. اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ امَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبِلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ, بَارَكَ اللهُ لِى وَلَكُمْ فِى الْقُرْانِ الْكَرِيْمِ, وَنَفَعَنِى وَاِيَّاكُمْ بِما فِيْهِ مِنَ الْايَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّى وَ مِنْكُمْ تِلَاوَتَه اِنَّه هُوَالسَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ, أَقُوْلُ قَوْلِى هَذاوَاَسْتَغْفِرُاللهَ الْعَظِيْمَ لِى وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالِمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّه هُوَالْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Mesjid Al Muhtadin Haur Gading

            Ramadhan 1445 H/     Maret 2024

Nahwu2# Pembahasan Hukum dalam Ilmu Nahwu

 






SEJARAH DAN DALIL KEGIATAN MEMINYAKI/MENYAPU/MENYANTUNI ANAK YATIM DI HAUR GADING

 

SEJARAH DAN DALIL KEGIATAN MEMINYAKI/MENYAPU/MENYANTUNI

ANAK YATIM DI HAUR GADING

 

A. SEJARAH

 

1.    Sejarah

Kegiatan meminyaki anak yatim di Haur Gading sudah berlangsung lama, dimulai dari tahun 60 an dan masih tetap berlangsung sampai sekarang (2023), bahkan setiap tahunnya semakin meriah, hal itu bisa dilihat, dari semakin banyaknya anak yatim yang hadir, semakin banyak masyarakat dan para dermawan yang hadir menyumbang dan banyaknya dana atau hasil yang didapat

 

2.    Gambaran kegiatan

Kegiatan meminyaki anak yatim biasanya dilakukan dilembaga pendidikan, seperti Madrasah, Pesantren, atau bisa juga dilakukan swadaya oleh masyarakat.

 

Panitia menyiapkan tempat, berupa meja untuk meletakan pipiringan yang berisi minyak serta lap atau tisue dan meja panitia untuk mengumpulkan hasil sumbangan, serta meja kursi untuk anak yatim yang berfungsi untuk duduk dan menyimpan bantuan benda berupa makanan, buku, dll yang diserahkan langsung oleh penyumbang kepada anak yatim tanpa lewat panitia,

 

Masyarakat datang ke lokasi kegiatan, lalu langsung mengambil minyak dan menyapu anak yatim sat persatu, sesudah selesai, lalu menuju meja panitia untuk menyerahkan sumbangan sesuka rela untuk dibagi hari itu juga kepada anak yatim.

 

Acara dimulai jam 07.00 sampai waktu Zuhur, sesudah Shalat Zuhur, dana hasil sumbangan langsung dibagi dihadapan Masyarakat, aparat desa, anak yatim dan yang membawa anak yatim atau keluarga mereka.

 

3.    Lokasi kegiatan

Khsusu di Kecamatan Haur Gading, kegiatan meminyaki dilakukan di beberapa tempat yaitu :

a.     Yayasan Intisyarul Mabarrat Desa Keramat Rt. 03

b.    Yayasan Nurul Fajeri di Desa Jingah Bujur

c.      Ponpes Raudhatul Mutaalimin di Desa Teluk Haur

d.    Desa Palimbang Sari

e.     Desa Pihaung

Semuanya pagi hari

f.       Desa Teluk Haur/Waringin sore hari

 

Khusus untuk Yayasan Intisyarul Mabarrat, sebelum tahun 2017, kegiatan tidak dibatasi, anak yatim dari manapun boleh datang dan ikut diminyaki, lalu karena banyaknya, anak yatim yang hadir, bahkan pernah satu kali mencapai lebih 300 orang dari semua Desa di Kecamatan Haur Gading, Kecamatan lain, seperti Amuntai Utara, Tengah, Selatan, Banjang, Danau Panggan, Sungai Pandan dll, bahkan ada yang dari Kabupaten HST, HSS dan Balangan, sehingga membuat panitia jadi kewalahan, apalagi hari acara tersebut ada sebagian panitia yang puasa Asyura, maka diadakanlah rapat, yang diprakarsai Yayasan Intisyarul Mabarrat, yang dihadiri, aparat Desa, tokoh masyarakat, pihak Yayasan, Panitia, Alumni dan Siswa di Mushalla Intisyarul Mabarrat, lalu didapatlah banyak keputusan diantaranya :

1.    Mulai saat itu, anak yatim yang boleh mendaftar hanya anak yatim yang berdomisili diwilayah Kecamatan Haur Gading yang meliputi 18 desa.

2.    Anak yatim maksimal berumur 15 tahun atau kelas 3 MTs, lebih dari itu, tidak diterima, kecuali ada hal yang membolehkan, yang akan disebutkan kemudian.

3.    Anak yatim wajib hadir, tidak boleh diwakilkan

4.    Tidak boleh mendaftar dua tempat acara dalam waktu yang sama

5.    Persyaratan administrasi

·       KK

·       Surat keterangan Yatim dari Kepala Desa anak yatim tinggal atau Kepala sekolah dimana anak yatim sekolah.

6.    Mendaftar sebelum hari acara, dan pendaftaran dibuka sekitar seminggu sebelum acara dihalaman Yayasan Intisyarul Mabarrat, hari acara hanya mendaftar ulang dan melengkapi persyaratan yang belum lenkap

7.    Anak yatim, yang tidak diam di wilayah Haur Gading, tapi orang tuanya orang Haur Gading, maka boleh didaftarkan, tapi umur masih 15 tahun kebawah

8.    Alumni MTs Intisyarul Mabarrat, yang menyambung ke Aliyah atau jenjang yang lebih tinggi, masih dibolehkan untuk mendaftar, tapi dengan syarat wajib hadir dan membantu acara, sampai selesai basisimpun

9.    Anak berkebutuhan Khusus atau kurang akal, boleh ikut, tanpa dibatasi umur

10.          Panitia memakai dana hasil sumbangan untuk pembiayaan acara, seperti konsumsi, bayar kamera, dll

 

Kegiatan meminyaki anak yatim yang dilaksanakan Yayasan Intisyarul Mabarrat biasanya mengundang para pejabat,  seperti Bupati, Ketua dan Anggota DPR Provinsi dan Kabupaten, Camat, Kepala Dinas, Baznas, Ormas dll dan Alhamdulillah mereka banyak yang hadir dan antusias.

 

Dalam bebrapa tahun terakhir, dana yang didapat panitia meminyaki anak yatim di Yayasan Intisyarul Mabarrat biasanya berkisar antara 100 juta, bisa kurang bisa lebih

 

B.    DALIL

 

KETERANGAN/DALIL KEGIATAN

MENYAPU/ MEMINYAKI KEPALA ANAK YATIM ATAU MENYANTUNI

 ANAK YATIM PADA TANGGAL 10 MUHARRAM( HARI ASYURA) DI HAUR GADING

 

A.  KETERANGAN  MENYAPU KEPALA ANAK YATIM PADA HARI ASYURA

1.    Kitab تَنْبيْهُ الْغَافِلِيْنَ (halaman 122)

مَنْ صَامَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ مِنَ الْمُحَرَّمِ أَعْطَاهُ اللَّهُ تَعَالَى ثَوَابَ عَشْرَةِ آلافِ مَلَكٍ ، وَمَنْ صَامَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ مِنَ الْمُحَرَّمِ أُعْطِيَ ثَوَابَ عَشْرَةِ آلَافِ حَاجٍّ وَمُعْتَمِرٍ وَعَشْرَةِ آلافِ شَهِيدٍ وَمَنْ مَسَحَ يَدَهُ عَلَى رَأْسِ يَتِيْمٍ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ رَفَعَ اللَّهُ تَعَالَى لَهُ بِكُلِّ شَعْرَةٍ دَرَجَةً

2.    Kitab AL GUNYAH JUZ 2 halaman 53 karangan SULTANUL AULIA SYAIKH ABDUL QADIR AL ZIILAANI (AL ZAILANI) RA

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ -رضي الله عنهُما -قَالَ: قال رسولُ اللهِ -صَلَّى اللهُ عليهِ وَسَلَّم -: "مَنْ صَامَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ مِنَ الْمُحَرَّمِ أُعْطِيَ ثَوَابَ عَشْرَةِ آلَافِ مَلِكٍ، وَمَنْ صَامَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ مِنَ الْمُحَرَّمِ أُعْطِيَ ثَوَابَ عَشْرَةِ آلَافِ شَهِيْدٍ وَثَوَابَ عَشرةِ آلَافِ حَاجٍّ وَمُعْتَمِرٍ، وَمَنْ مَسَحَ بِيَدِه عَلَى رَأْسِ يَتِيْمٍ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ رَفَعَ اللهُ تَعَالَى لَه بِكُلِّ شَعْرَةٍ عَلَى رَأْسِه دَرَجَةً فِي الْجَنَّةِ، وَمَنْ فَطَّرَ مُؤْمِنًا لَيْلَةَ عَاشُوْرَاءَ فَكَأَنَّمَا أَفْطَرَ عِنْدَه جَمِيْعَ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ - صَلَّى اللهُ عليهِ وَسَلَّم -وَأَشْبَعَ بُطُوْنَهُمْ.

 

مَنْ صَامَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ كَتَبَ اللهُ لَه عِبَادَةَ سِتِّيْنَ سَنَةً بِصِيَامِهَا وَقِيَامِهَا، و مَنْ صَامَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ أُعْطِيَ ثَوَابَ أَلْفِ شَهِيْدٍ، وَ مَنْ صَامَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ كَتَبَ اللهُ لَه أَجْرَ أَهْلِ سَبْعِ سَمَوَاتٍ، وَمَنْ فَطَّرَ مُؤْمِنًا يَومَ عَاشُوراءَ فَكَأَنَّمَا أَفْطَرَ عِنْدَه جَمِيْعَ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ - صَلَّى اللهُ عليهِ وَسَلَّم -وَأَشْبَعَ بُطُوْنَهُمْ، ومَنْ مَسحَ رأسَ يتيمٍ فِي يومِ عاشوراءَ رُفِعَتْ له بِكُلِّ شَعرةٍ على رأسه دَرجةٌ فِي الجنةِ

 

3.    Kitab مَنَاهِجُ الْاِمْدَادِ (Juz 1 halaman 521(

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَامَ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ مِنَ الْمُحَرَّمِ اَعْطَاهُ اللهُ تَعَالَي ثَوَابَ عَشْرَةِ آلَافِ مَلَكٍ وَمَنْ صَامَ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ مِنَ الْمُحَرَّمِ أُعْطِيَ ثَوَابَ عَشْرِ شَهِيْدٍ وَمَنْ مَسَحَ يَدَه عَلَي رَأْسِ يَتِيْمٍ يَوْمَ عَاشُورَاءَ رَفَعَ اللَّهُ تَعَالَى لَهُ بِكُلِّ شَعْرَةٍ دَرَجَةً

4.    Kitab كَنْزُ النَّجَاحِ وَ السُّرُوْرِ (halaman 19 ) dan kitab اِعَانَةُ الطَّالِبِيْنَ (Juz 2 halaman 266-267)

وَقَدْ عَدَّهَا بَعْضُهُمْ اِثْنَتَيْ عَشْرَةَ خَصْلَةً وَهِيَ: اَلصَّلَاةُ وَالصَّوْمُ وَصِلَةُ الرَّحِمِ وَالصَّدَقَةُ وَالْاِغْتِسَالُ وَالْاِكْتِحَالُ وَزِيَارَةُ عَالِمٍ وَعِيَادَةُ مَرِيْضٍ وَمَسْحُ رَأْسِ الْيَتِيْمِ وَالتَّوْسِعَةُ عَلَى الْعِيَالِ وَتَقْلِيْمُ الْاَظْفَارِ وَقِرَاءَةُ سُوْرَةِ الْاِخْلَاصِ أَلْفَ مَرَّةٍ وَنَظَمَهَا بَعْضُهُمْ فَقَالَ:

فِى يوْمِ عَاشُوْرَاءَ عَشْرٌ تَتَّصِلْ * بِهَا اثْنَتَانِ وَلهَاَ فَضْلٌ نُقِلْ
صُمْ صَلِّ صِلْ زُرْ عَالمِاً عُدْ وَاكْتَحِلْ * رَأْسَ الْيَتِيْمِ امْسَحْ تَصَدَّقْ وَاغْتَسِلْ
وَسِّعْ عَلَى اْلعِيَالِ قَلِّمْ ظُفْرَا * وَسُوْرَةَ الْاِخْلاَصِ قُلْ اَلْفَ تَصِلْ

B.    KETERANGAN  MENYAPU KEPALA ANAK YATIM SECARA UMUM (ASYURA ATAU TIDAK)

1.    Hadits dalam kitab Musnad Ahmad No. 22284

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ مَسَحَ رَأْسَ يَتِيمٍ أَوْ يَتِيْمَةٍ لَمْ يَمْسَحْهُ إِلَّا لِلَّهِ كَانَ لَهُ بِكُلِّ شَعْرَةٍ مَرَّتْ عَلَيْهَا يَدُهُ حَسَنَاتٌ، وَمَنْ أَحْسَنَ إِلَى يَتِيمَةٍ أَوْ يَتِيمٍ عِنْدَهُ كُنْتُ أَنَا وَهُوَ فِي الْجَنَّةِ كَهَاتَيْنِ وَفَرَّقَ بَيْنَ أُصْبُعَيْهِ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى

 

2.    Hadits dalam kitab Musnad Ahmad Juz 2 halaman 263

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَجُلًا شَكَا إِلَى رَسُوْلِ اللَّهِ  صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَسْوَةَ قَلْبِهِ فَقَالَ: اِنْ اَرَدْتَ اَنْ يَلِيْنَ قَلْبُكَ فَأَطْعِمِ الْمِسْكِينَ وَامْسَحْ بِرَأْسِ الْيَتِيمِ

3.    Hadits Riwayat Imam Taberani Ra

أتَى النَّبيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ يَشْكُو قَسْوَةَ قَلْبِه قَالَ أَتُحِبُّ أَنْ يَلِيْنَ قلبُكَ وتُدْرِكَ حَاجَتَك اِرْحَمِ الْيَتِيْمَ وَامْسَحْ رأسَه وَأَطْعِمْهُ مِنْ طَعَامِكَ يَلِنْ قلبُكَ وتُدرِكْ حَاجَتَكَ

4.    Hadits  riwayat Imam Bukhari dalam kitab Adabul Mufrad No. 137

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ مَسَحَ رَأْسَ الْيَتِيمِ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ بِكُلِّ شَعْرَةٍ مِنْ رَأْسِهِ حَسَنَةً، وَمَنْ كَانَ عِنْدَهُ يَتِيمٌ أَوْ يَتِيمَةٌ لَهُ أَوْ لِغَيْرِهِ كُنْتُ أَنَا وَهُوَ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا»، وَنَصَبَ إِصْبَعَيْنِ وَقَرَنَهُمَا

5.    Fathul Bari Juz 11 halaman 151

وَوردَ في فضلِ مسحِ رأسِ اليتيمِ حديثٌ أخرجه احمدُ والطبرانِي عَن أبِي اُمامةَ بِلفظِ مَن مسحَ رأسَ يتيمٍ لَا يمسَحُه الا لله كان له بكلِ شعرةٍ تَمُرُّ يدُه عليها حسنةٌ وسنده ضعيف ولأحمد من حديث أبي هريرة ان

رجلا شكى إلى النبي صلى الله عليه و سلم قسوة قلبه فقال اطعم المسكين وامسح رأس اليتيم وسنده حسن.

 

C.    HADITS MENYAPU KEPALA SECARA UMUM (YATIM ATAU BUKAN, ANAK-ANAK ATAU BUKAN)

1.    Hadits riwayat Imam Bukhari Ra dalam Kitab Adabul Mufrad No. 966

عَنْ سَلَمَةَ بْنِ وَرْدَانَ قَالَ : رَأَيْتَ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يُصَافِحُ النَّاسَ فَسَأَلَنِي : مَنْ أَنْتَ ؟ فَقُلْتُ : مَوْلَى لِبَنِي لَيْثَ فَمَسَحَ عَلَى رَأْسِي ثَلَاثًا وَقَالَ : بَارَكَ اللهُ فِيْكَ

2.    Kitab Ash-Shama’il Al-Muhammadiyyah 338

عَنْ يُوْسُفَ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ سَلَامٍ قَالَ : سَمَّانِي رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوْسُفَ، وَأَقْعَدَنِي عَلَى حَجْرِهِ وَمَسَحَ عَلَى رَأْسِي

3.    Hadits riwayat Imam Bukhari Ra dalam kitab Adabul Mufrad No.969

عَنْ إِبْرَاهِيْمَ بْنِ مَرْزُوْقٍ اَلثَّقَفِي قَالَ : حَدَّثَنِي أَبِي وَكَانَ لِعَبْدِ اللهِ بْنِ اَلزُّبَيْرِ فَأَخَذَهُ الْحَجَّاجُ مِنْهُ قَالَ : كَانَ عَبْدُ اللهِ بْنُ الزُّبَيْرِ بَعَثَنِي إِلَى أُمِّهِ أَسْمَاءِ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ فَأَخْبَرَهَا بِمَا يُعَامِلُهُمْ حَجَّاجٌ وَتَدْعُوْ لِي وَتَمْسَحُ رَأْسِي وَأَنَا يَوْمَئِذٍ وَصِيْفٌ

 

 

4.    Hadits riwayat Imam Muslim Ra

اِنَّ أُمَّ مُحَمَّدِ بْنِ حَاطِبٍ أَتَتْ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ: هذَا مُحَمَّدُ بْنُ حَاطِبٍ أَوَّلُ مَنْ سُمِّيَ بِكَ! فَمَسَحَ عَلَى رَأْسِهِ وَدَعَا لَه بِالْبَرَكَةِ رَوَاهُ مُسْلِمٌ

5.   Hadits dalam Kitab Tahzibul Atsar No : 740

عَنْ إِدْرِيْسَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ أَنَسِ بْنِ فَضَالَةَ بْنِ مُحَمَّدٍ قَالَ : حَدَّثَنَا جَدِّي عَنْ أَبِيْهِ ، قَالَ : قَدِمَ رسولُ الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِيْنَةَ، وأنا ابْنُ أُسْبُوعَيْنِ، فَأَتَي بِي إِلَيْهِ فَمَسَحَ عَلى رَأْسِي وَقَالَ : سَمُّوْهُ بِاسْمِي

6.    Hadits riwayat Imam Bukhari No. 6352 halaman 122

عَنِ ‌السَّائِبِ بْنِ يَزِيْدَ يَقُوْلُ: ذَهَبَتْ بي خَالَتِي إِلَى رَسْوْلِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فقالتْ : يا رَسُوْلَ اللهِ، إِنَّ ابْنَ أُخْتِي وَجْعٌ، فَمَسَحَ رأْسِي ودَعَا لِي بِالْبَرَكَةِ، ثُمَّ تَوَضَّأَ، فَشَرِبْتُ مِن وُضُوْئِهِ، ثُمَّ قُمْتُ خَلْفَ ظَهْرِهِ فَنَظَرْتُ إِلَى خَاتِمِه بَيْنَ كَتِفَيْهِ مِثْلَ زِرِّ الْحَجَلَةِ

7.    Hadits dalam kitab Subulul Huda War Rasyad Juz 10 halaman 19

عَنْ بَشِيْرِ بْنِ عَقْرَبَةَ الْجُهَنِيّ يَقُوْلُ: أَتَى أَبِيْ عَقْرَبَةُ الْجُهَنِيُّ إِلىَ النَّبِيِّ صلّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: «مَنْ هَذَا مَعَكَ يَا عَقْرَبَةُ» ؟ قَالَ: اِبْنِيْ بَحِيْرٌ، قَالَ: «اُدْنُ» ، فَدَنَوْتُ حَتَّى قَعَدْتُ عَلىَ يَمِيْنِهِ، فَمَسَحَ عَلىَ

رَأْسِيْ بِيَدِهِ، وَقَالَ: «مَا اسْمُكَ» ؟ قُلْتُ: بَحِيْرٌ يَا رَسُوْلَ الله، قَالَ: «لاَ، وَلَكِنْ اِسْمُكَ بَشِيْرٌ» ، وَكَانَتْ فِيْ لِسَانِيْ عُقْدَةٌ فَنَفَثَ النَّبِيُّ صلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْ فِيَّ، فَانْحَلَّتْ الْعُقْدَةُ مِنْ لِسَانِيْ، وَابْيَضَّ كُلُّ شَيْءٍ مِنْ رَأْسِيْ مَا خَلاَ مَا وَضَعَ يَدَهُ عَلَيْهِ فَكَانَ أَسْوَدَ

 

8.    Hadits dan perbuatan Sahabat  رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ

·     قَالَ جَابِرُ بْنُ سَمُرَةَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمُرُّ بِنَا فَيَمْسَحُ خُدُوْدَنا، فَمَسَحَ خَدِّي فَكَانَ الْخَدُّ الَّذِي مَسَحَهُ أَحْسَنَ

·     قَالَ عَمْرُو بْنُ حُرَيْثٍ: اِنْطَلَقَ بِي رَسُوْلُ الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا غُلَامٌ فدَعَا لِي بِالْبَركَةِ وَمَسَحَ رأسِي وخَطَّ لِي دَاراً بِالْمَدِيْنَةِ بِقُوْسٍ.

·     قَالَ غُضَيْفُ بْنُ الْحَارِثِ: كُنْتُ صَبِيًّا أَرْمِى نَخْلَ الْأَنْصَارِ, فَأَتَوْا بِي إلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فمسَحَ رَأْسِي وَقَالَ: كُلْ مَا سَقَطَ, ولا تَرْمِ نَخْلَهُمْ.

·     قَالَ عَبْدُ اللهِ بْنُ بُسْرٍ: أَكَلَ رَسُوْلُ اللهِ عِنْدَنَا حَيْسًا, ثُمَّ الْتَفَتَ إِلَيَّ وَأَنَا غُلامٌ فمَسَحَ عَلى رَأْسِي، وَقَالَ: يَعِيْشُ هذَا الْغُلَامُ قَرْناً

·     عَنِ ‏ ‏ابْنِ عَبَّاسٍ ‏ ‏مَسَحَ النَّبِيُّ ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ ‏رَأْسِي وَدَعَا لِي بِالْحِكْمَةِ ‏

·     حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يَزِيدَ حَدَّثَنَا سَعِيدٌ هُوَ ابْنُ أَبِي أَيُّوبَ قَالَ حَدَّثَنِي أَبُو عَقِيلٍ زُهْرَةُ بْنُ مَعْبَدٍ عَنْ جَدِّهِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ هِشَامٍ وَكَانَ قَدْ أَدْرَكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَذَهَبَتْ بِهِ أُمُّهُ زَيْنَبُ بِنْتُ حُمَيْدٍ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ بَايِعْهُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هُوَ صَغِيرٌ فَمَسَحَ رَأْسَهُ وَدَعَا لَهُ وَكَانَ يُضَحِّي بِالشَّاةِ الْوَاحِدَةِ عَنْ جَمِيعِ أَهْلِهِ

 

اقتداء الصحابة.

وَعَنْ فَاطِمَةَ بِنْتِ سَعْدٍ قَالَتْ: رُبَّمَا أَجْلَسَني أَبُوْ هُرَيْرةَ فِي حجْرِه, فَيَمْسَحُ عَلَى رَأْسِي وَيَدْعُو لِي بِالْبَرَكَةِ.

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الْوَلِيدِ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ: خَرَجْتُ مَعَ أَبِي وَأَنَا غُلَامٌ شَابٌّ، فَنَلْقَى شَيْخًا (عَلَيْهِ بُرْدَةٌ وَمَعَافِرِيٌّ، وَعَلَى غُلَامِهِ بُرْدَةٌ وَمَعَافِرِيٌّ) قُلْتُ: أَيْ عَمِّ، مَا مَنَعَكَ أَنْ تُعْطِيَ غُلَامَكَ هَذِهِ النَّمِرَةَ وَتَأْخُذَ الْبُرْدَةَ، فَتَكُونُ عَلَيْكَ بُرْدَتَانِ، وَعَلَيْهِ نَمِرَةٌ؟ فَأَقْبَلَ عَلَى أَبِي، فَقَالَ: ابْنُكَ هَذَا؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فَمَسَحَ

عَلَى رَأْسِي وَقَالَ: بَارَكَ اللَّهُ فِيكَ

 

D.   KETERANGAN ULAMA TERKAIT HADITS MENYAPU ANAK YATIM, APAKAH MAKNA HAKIKI (SEBENARNYA) ATAU KIASAN

 

·       Imam Ibnu Hajar Al Haitami, dalam kitabnya : al- Fatawaa al –Haditsiyyah Juz 1 halaman 43, memaknai Hadits Menyapu anak yatim dengan makna hakiki atau sebenarnya, artinya memang disapu atau diusap dengan tangan :

 

 

وَالْمُرادُ مِن الْمسحِ في الحديثِ الثاني حقيقتُه كَما بَيَّنَه آخرَ الحديثِ وهو (من مسح رأس يتيم لم يمسحه إلا لله كان له بكل شعرة تمر عليها يده عشر حسنات ومن أحسن إلى يتيمة أو يتيم عنده كنت أنا وهو في الجنة كهاتين وقرن بين أصبعيه) . وَخُصَّ الرَّأْسُ بِذلِكَ لِأنَّ فِي الْمسحِ عليه تَعْظيمًا لِصاحبِه وشفقةً عَليهِ ومحبةً له وجبرًا لخاطره، وهذه كلها مع اليتيم تقتضي هذا الثوب الجزيل

·       Syaikh Abu Tayyib memaknai Hadits menyapu kepala anak yatim, dengan makna kiasan, sebagaimana dalam Kitab Mirqatul Mafatih, Juz 8 halaman 3115

قال الطيبي: مَسْحُ رأسِ اليتيمِ كنايةٌ عَن الشَّفَقةِ والتَّلَطُّفِ إليه، ولما لم تكنِ الكنايةُ مُنَافيةً لِإرادةِ الْحقَيْقَةِ لإمْكَانِ الجمْعِ بيْنَهُما

 

E.    KEBIASAAN ULAMA-ULAMA DULU PADA HARI ASYURA

Berkata Imam Al Hafizh Ibnu Al Jauzi (508-597 M) dalam kitab Al Mawaiz wal Majalis halaman 73-74

فَوَائِدُ فِيْ يَوْمِ عَاشُوْرَاءَ. اَلْفَائِدَةُ اْلأُوْلَى: يَنْبَغِيْ أَنْ تَغْسِلَ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ، وَقَدْ ذُكِرَ أَنَّ اللهَ تَعَالَى يَخْرِقُ فِيْ تِلْكَ اللَّيْلَةِ زَمْزَمَ إِلىَ سَائِرِ الْمِيَاهِ، فَمَنِ اغْتَسَلَ يَوْمَئِذٍ أَمِنَ مِنَ الْمَرَضِ فِيْ جَمِيْعِ السَّنَةِ، وَهَذَا لَيْسَ بِحَدِيْثٍ، بَلْ يُرْوَى عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِيْ طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ. اْلفَائِدَةُ الثَّانِيَةُ: الصَّدَقَةُ عَلىَ الْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِيْنِ. اْلفَائِدَةُ الثَّالِثَةُ: أَنْ يَمْسَحَ رَأْسَ الْيَتِيْمِ. اَلْفَائِدَةُ الرَّابِعَةُ أَنْ يُفَطِّرَ صَائِمَا. اَلْفَائِدَةُ الْخَامِسَةُ أَنْ يُسْقِيَ الْمَاءَ. اَلْفَائِدَةُ السَّادِسَةُ أَنْ يَزُوْرَ اْلإِخْوَانَ. اَلْفَائِدَةُ السَّابِعَةُ: أَنْ يَعُوْدَ الْمَرِيْضَ. اَلْفَائِدَةُ الثَّامِنَةُ أَنْ يُكْرِمَ وَالِدَيْهِ وَيَبِرَّهُمَا. الْفَائِدَةُ التَّاسِعَةُ أَنْ يَكْظِمَ غَيْظَهُ. اَلْفَائِدَةُ الْعَاشِرَةُ أَنْ يَعْفُوَ عَمَّنْ ظَلَمَهُ. اَلْفَائِدَةُ الْحَادِيَةَ عَشَرَةَ: أَنْ يُكْثِرَ فِيْهِ مِنَ الصَّلاَةِ وَالدُّعَاءِ وَاْلاِسْتِغْفَارِ. اَلْفَائِدَةُ الثَّانِيَةَ عَشَرَةَ أَنْ يُكْثِرَ فِيْهِ مِنْ ذِكْرِ اللهِ. اَلْفَائِدَةُ الثَّالِثَةَ عَشَرَةَ أَنْ يُمِيْطَ اْلأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ. اَلْفَائِدَةُ الرَّابِعَةَ عَشَرَةَ أَنْ يُصَافِحَ إِخْوَانَهُ إِذَا لَقِيَهُمْ. اَلْفَائِدَةُ الْخَامِسَةَ عَشَرَةَ: أَنْ يُكْثِرَ فِيْهِ مِنْ قِرَاءَةِ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ لِمَا رُوِيَ عَنْ عَلِيٍّ بْنِ أَبِيْ طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: مَنْ قَرَأَ فِيْ يَوْمِ عَاشُوْرَاءَ أَلْفَ مَرَّةٍ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ نَظَرَ اللهُ إِلَيْهِ وَمَنْ نَظَرَ إِلَيْهِ

لَمْ يُعَذِّبْهُ أَبَدًا 

 

F.     CARA MENYAPU DAN BACAAN KETIKA MENYAPU KEPALA ANAK YATIM : KETERANGAN DALAM KITAB

اَلْبَرَكَة : لِلْاِمَامِ اَلْعَالِم الْعَلَّامَةِ الْفَقِيْهِ جَمَالُ الدِّيْنِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمنِ بْنِ عُمَرَ

·       Bacaan ketika menyapu kepala anak yatim :

جَبَّرَ اللهُ يُتْمَكَ وَجَعَلَكَ خَلَفًا مِنْ اَبِيْكَ

·       Cara menyapu

-         Cara pertama : Meninggal Mama dari tengah kepala ke ubun ubun, meninggal Abah dari ubun-ubun ketengah kepala

-         Cara kedua      : Anak laki-laki dari belakang kemuka, cara perempuan dari muka kebelakang.

 

 

 

 

G.    PENGERTIAN YATIM

اَلْقَوْلُ الْاَظْهَرُ

Dalam kitab Mughnil  Muhtaj Juz 3 halaman 78, disebutkan yatim adalah,

اَلْيَتِيْمُ مَنْ مَاتَ اَبُوْهُ قَبْلَ بُلُوْغِهِ

Artinya : Yatim adalah seseorang yang meninggal ayahnya dan belum baligh.

 

القَوْلُ مُقَابِلُ الْاَظْهَرِ

Yatim adalah seseorang yang ditinggal mati salah satu dari ayah atau ibunya, pendapat  ini menurut Imam Abu Abdillah Az Zarkasy dalam kitabnya الْمَنْثُوْرُ فِي الْقَوَاعِدِ juz 3 halaman 368 dan Imam Ibnu Abi Hurairah dan pendapat ini boleh diikuti dan diamalkan.

 

وقال ابنُ أبي هريرةَ في كتابِ الحجرِ من تعليقِه الْيتِيمُ مَن لا أبَ له ولا أُمَّ بلا خلاف وكذلك مَن لا أبَ له يلزمُه اسمُ اليتيمِ قولا واحدا فأما إذا لم يكن له أُمٌّ وكان له أب فعَلَى وَجهَيْنِ أحدِهِما أنه يتيمٌ وهو عَلَى القولِ الَّذِي يقولُ أَنَّ الأمَّ تلي أمْرَ ابْنِها انتهى

 

Jadi kesimpulannya :

1.    Yatim adalah seseorang yang ditinggal mati ayahnya dan belum baligh, Pengertian ini sepakat Jumhur Ulama dan kebolehan dalam menyantuni mereka, ini sebagaimana pendapat AL-QAULUL AZHAR.

2.    Dalam istilah bahasa Indonesia seseorang yang ditinggal mati ibunya disebut dg piatu, dan anak inipun boleh disapu atau diminyaki dan disantuni, dengan mengikut pendapat AL-QAUL MUQABILUL AZHAR

 

 

 

 

 

 

 

 

H.   BOLEH  MENYANTUNI ATAU MENYAPU KEPALA ANAK YATIM ATAU PIATU YANG SUDAH BALIGH

وأمَّا نَفْسُ اليُتْمِ فَيَنْقَضِي بِالْبُلُوْغِ وَقَدْ ثَبَتَ أَنَّ النبيَّ صلَّى اللهُ عَليهِ وَسلَّم قَال لا يُتْمَ بعدَ الْحُلُمِ، وفِي هذا دليلٌ لِلشَّافعي.ومالكٌ وجَماهيرُ العلماءِ أن حكمَ اليتمِ لا ينقطعُ بمجردِ البلوغِ وَلَا بِعُلُوِّ السِّنِّ، بَلْ لا بُدَّ أنْ يَظْهَرَ مِنهُ الرُّشْدُ فِي دِينِه ومَالِه. وقال أبو حنيفةَ: إذا بَلَغَ خَمْسًا وعِشرِينَ سنةً زالَ عنه حكمُ الصبيانِ، وصارَ رَشِيدًا يَتصرَّفُ في مالِه، ويجبُ تَسليمُه إليه وإِنْ كانَ غيرَ ضابطٍ لَه.

I.       KESIMPULAN

1.    Hadits yang menyebutkan perintah meminyaki anak yatim pada hari Asyura adalah hadits dhaif, tapi walaupun begitu, boleh diamalkan untuk fadilah amal (kegiatan beramal)

2.    Hadits sahih ada menyebutkan Nabi saw dan Para Sahabat menyapu kepala anak yatim, tapi tidak menyebut itu pada hari Asyura, jadi apa salahnya praktek yang dicontohkan Nabi saw tersebut kita kerjakan pada hari Asyura, dan mungkin juga Nabi saw melakukan hal itu pada hari Asyura, cuma di matan hadits tidak disebutkan waktunya.

3.    Dalam kitab  فَيْضُ الْقَدِيْرِ disebutkan diantara kebiasaan Nabi saw, adalah menyantuni anak yatim bahkan juga keluarganya pada hari Asyura

4.    Berkata Imam Ibnu Hajar Al Haitami ra, diantara kebiasaan Ulama terdahulu adalah menyantuni anak yatim pada hari Asyura

5.    Dan kebiasaan baik yang dilakukan masyarakat umum, serta ada nash terkait perbuatan tersebut(walaupun secara tidak langsung), juga bisa dijadikan dalil dan pegangan dalam beramal ibadah sebagaimana qaidah العادة محكمة

Menurut al-Jurjani: “Al-‘aadah ialah sesuatu(perbuatan/perkataan) yang terus menerus dilakukan oleh manusia, karena dapat diterima oleh akal, dan manusia mengulang-ulanginya terus menerus.

Menurut Ibnu Nuzaim : “sesuatu ungkapan dari apa yang terpendam dalam diri, perkara yang berulang-ulang yang biasa diterima oleh tabi’at (perangai) yang sehat.

Kegiatan Meminyaki Anak Yatim di Haur Gading adalah kegiatan yang dilakukan terus menerus, mulia dari tahun 60 an, dan akal menerima, kenapa? karena disitu ada kebaikan, seperti menyantuni dan menyayangi anak yatim, silaturrahmi, dll yang hal itu sangat dianjurkan oleh Nabi saw, dan jadi dengan hal itu, cukuplah itu menjadi dalil/dasar KEGIATAN MEMINYAKI ANAK YATIM YANG DILAKSANAKAN DI HAUR GADING.

6.    Jadi seandainya tidak ada hadits yang menyebutkan dalil tentang meminyaki anak yatim pada hari Asyura, cukuplah kebiasaan yang baik itu menjadi sebuah dasar/dalil.

7.    Dalam hadits, Nabi saw menyapu haja tanpa pakai minyak, lalu kenapa kita pakai minyak, karena mengikut Nabi saw yang meminyaki rambut Beliau dan juga Allah dan Nabi itu bersih, cinta kebersihan, indah dan cinta keindahan.

 

MAJELIS TA’LIM INTISYARUL MUBARRAT

KERAMAT HAUR GADING AMUNTAI

11 ZULQA’DAH 1444 H/31 MEI 2023 M

 

REFERENSI/اَلْمَرَاجِعُ

1.     Kitab تَنْبيْهُ الْغَافِلِيْنَ karya Al Imam Al Faqih, Al Muhadits Al Mufassir Nashr bin Muhammad bin Ahmad bin Iberahim as-Samarkandi al-Balkhy رَحمهم الله atau yang lebih dikenal dengan Abu Layts As-Samarkandi.

Beliau lahir pada tahun 301 H disebuah kota yang bernama As-Samarkandi, bagian dari kota Khurasan Negara Uzbekistan, Beliau seorang Ulama yang bermazhab Hanafi, dan diantara Guru-guru Beliau, Ali Abu Ja’far al-Hindiwani (362 H), Muhammad bin al-Fadhl al-Balkhy (319 H), Kholil bin Ahmad bin Ismail (368 H), Muhammad bin al-Husain al-Haddady رَحمهم الله (388 H). Diantara karangan Beliau yang lain yaitu Tafsir Bahrul Ulum

2.     Kitab اَلْغُنْيَةُ karya Sultanul Aulia Syaikh Abdul Qadir Al –Ziilany (Al-Zailany) رَحمه الله , Beliau lahir pada tahun 471 H-561 H/1078 M-1167 M, Beliau adalah pendiri Tarekat Qadiriyah.

3.     Kitab مَنَاهِجُ الْاِمْدَادِ karya salah seorang Ulama Indonesia, lebih terpatnya dari Kota Kediri Jawa Timur, Beliau adalah As Syaikh Ihsan Dahlan Jempesرَحمه الله , Beliau lahir pada tahun 1900 dan wafat tahun 1952 M, Manuskrip  kitab ini (tulisan tangan) berada di gedung PBNU Jakarta, yang sebelumnya berada di Perpustakaan Kairo Mesir. Manuskrip aslinya setebal 1088 halaman

Kitab مَنَاهِجُ الْاِمْدَادِ adalah Syarah dari kitab اِرْشَادُ الْعِبَادِ karya Syaikh Zainuddin Al Malibari India  رَحمه الله, sebuah kitab yang sangat terkenal dan banyak dibaca dikalangan kita Ahlussunah Wal Jamaah, Syaikh Zainuddin Al Malibari adalah jua Murid dari salah seorang Ulama Indonesia yang terkenal yaitu Syaikh Nawawi Al Bantani رَحمه الله Beliau lahir tahun 1230 H-1314 H, Beliau mengarang tidak kurang dari 115 kitab, diantaranya,

 مَرَاقِي الْعُبُوْدِيَة, اِسْعَادُ الرَّفِيْقِ, التَّفسِيْر مَرَاح لَبِيْد, بهجة الوسائل, تَنْقِيْحُ الْقَوْلِ الحَثِيْثِ

4.      Kitab كَنْزُ النَّجَاحِ وَ السُّرُوْرِ karya Syaikh Abdul Hamid Quds رَحمه الله

5.     Kitab اِعَانَةُ الطَّالِبِيْنَ karya  As Sayyid Abu Bakar bin Utsman bin Muhammad Syatho ad-Dimyathi Al-Bakri رَحمهم الله (wafat 1310 H), penulis kitab ini adalah Syaikh Ali bin Abdullah bin Mahmud bin Syaikh Muhammad Arsyad Kalampaian Al Banjari رَحمهم الله

6.     Musnad Ahmad karya Imam Ahmad bin Hanbal رَحمه الله lahir 164-241 H di kota Turkmenistan, Utara Afganistan

7.     Sahih Bukhari karya Muhammad bin Ismail (Imam Bukhari) رَحمه الله lahir 194 H-256 H, Uzbekestan

8.     Kitab اَلْاَدَابُ الْمُفْرَدُ karya Imam Bukhari رَحمه الله berisi 644 bab dengan 1.322 hadits Nabi saw.

9.     Kitab فَتْحُ البَارِي karya Al Imam Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani رَحمه الله (Syihabuddin Abul Fadhl Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Mahmud bin Ahmad bin Hajar رَحمهم الله ) lahir  773 H-852 H.

10.                       Kitab تَهْذِيْبُ الْاثَار karya Imam Ja’far bin Muhammad bin Jarir At Thabari رَحمهم الله  310 H)

11.                       Kitab مَجْمَعُ الزَّوَائِدِ karya  Imam al-Haitsamiy (Abul Hasan bin Ali bin Abu Bakar رَحمهم الله 807 H)

12.                       Kitab سُبُلُ الْهُدَي وَالرَّشَادِ karya Imam Muhammad bin Yusuf As-Salihi As-Syami رَحمهما الله

13.                       Kitab اَلْفَتَاوَى الْحَدِيْثِيَّة  karya Imam Ibnu Hajar Al Haitami ( Ahmad bin Muhammad bin Ali bin Hajar Al Haitami  رَحمهم الله)Beliau lahir di Mesir 909 H dan wafat di Mekkah 973 H.

14.                       Kitab اَلْمَوَاعِظُ وَالْمَجَالِسُ karya Imam Al Hafizh Ibnu Al Jauzi رَحمه الله (508-597 M) 

15.                       Kitab مِرْقَاةُ الْمَفَاتِيْحِ karya  Syaikh Ali bin Sultan bin Muhammad  رَحمهما الله

16.                       Dan lain-lain

 

اَلْحَمْدُ لِلّهِ